Sumedang-eltaranews.com. Permasalahan pengelolaan wakaf Pangeran Suriatmadja yang berlarut-larut tanpa ujung penyelesaian akhirnya disatukan dalam moment yang bersejarah antara Yayayasan Nadzir Wakaf Pangeran Sumedang (YNWPS) dan Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) disaksikan oleh keluarga Trah keturunan Pangeran Sumedang dalam “Deklarasi Program” Untuk Pengelolaan Wakaf Pangeran Suriatmadja yang lebih baik. Dalam acara tersebut disaksikan oleh Kepala BWI pusat, Propinsi dan Kabupaten juga unsur Pemerintahan, acara berlangsung diaula Srimanganti kraton Sumedang Larang, Selasa 25/11/2025.

Luky Djohari Soemawilaga Ketua YNWPS mengatakan, Adanya kegiatan ini terutama nilai untuk mempererat tali kekeluargaan, meningkatkan rasa persatuan-kesatuan
demi kemajuan perwakafan pangeran Suria atmadja yang diikrarkan 22 September 1912
agar wakaf ini menuju wakaf yang produktif untuk kemaslahatan, kepentingan masyarakat dan bangsa ini lebih baik ke depan.
Saya berbahagia juga di dalam acara hari ini adalah adanya pengembalian gamelan Parakan Salak kembali kepada pangkuan Sumedang
yang diwakili tadi oleh perwakilan keluarga dari RAA Danuningrat diserahkan ke kami untuk disimpan kembali di Museum Prabu Geusan Ulun Kraton Semedang Larang.
Ini merupakan sebuah anugerah dari Gusti Alloh akan kenikmatan kebahagiaan yang kita rasakan selain mendapatkan nilai kebersamaan dengan melakukan rekonstruksi ini
dan juga kembalinya pusaka Sumedang yang pemiliknya adalah keluarga besar dari RAA Danuningrat kepada pangkuan Sumedang.
Itu yang paling membahagiakan karena bagaimanapun juga kita tahu dari histori gamelan Parakan Salak ini merupakan kebanggaan Sumedang, kebanggaan Jawa Barat dan kebanggaan nasional
karena bagaimanapun juga gamelan Parakan Salak adalah saksi sejarah gamelan ini yang pernah dipakai meresmikan Menara Eiffel di Perancis pada saat itu. Kata Luky
Sedangkan R.A.A Mustikaningrat menyebutkan kita ingin kembali ke marwahnya sebagai cucu cucu tahu ada wakaf dari Pangeran Suriaatnadja yang harus dikelola untuk kepentingan masyarakat dan ini selalu diributkan, maka dengan dikumpulkannya keluarga diperlukan pengelolan wakaf dengan baik karena kita tahu pangeran Sugih kenapa disebut Sugih karena kaya dan kekayaannya itu dimana-mana di karawang dan didaerah lainnya yang perlu dinventaris kembali. Adapun mengenai gamelan sari oneng parakan salak kami titipkan kesini sambil menunggu pembangunan musium RAA Soeriadanoeningrat. katanya.
