Sumedang-eltaranews.com. Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Sumedang periode 2026–2029 resmi dilantik di Gedung Negara, Sabtu (10/1/2026). Pelantikan ini menandai komitmen HIPMI Sumedang dalam memperkuat ekonomi lokal, khususnya melalui pengembangan ketahanan pangan.

Ketua BPC HIPMI Sumedang, Rafika Adnur, menegaskan bahwa ketahanan pangan dan produksi pangan lokal merupakan solusi paling nyata dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, masyarakat cenderung kembali pada perilaku ekonomi tradisional seperti membeli emas sebagai bentuk pengamanan aset.
“Namun kunci sejati bertahan di tengah krisis bukan hanya menyimpan emas, melainkan memastikan pangan tersedia. Jika di rumah ada ayam bertelur atau pohon singkong, kita tetap bisa makan meski kondisi ekonomi memburuk,” ujar Rafika.
Ia menekankan bahwa produksi pangan lokal sejalan dengan konsep ketahanan pangan nasional yang terus digaungkan Presiden Prabowo. Fokus pada pangan, kata Rafika, akan menjamin masyarakat tetap bertahan bahkan dalam kondisi ekonomi terburuk.
Sementara itu, Bupati Sumedang Doni Ahmad Munir dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada pengurus baru HIPMI Sumedang. Ia menegaskan peran strategis HIPMI sebagai mitra pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan menyukseskan berbagai program pembangunan.
“HIPMI memiliki amanah besar untuk terus mengawal semangat kewirausahaan, mendampingi UMKM, serta menjaga dan mengembangkan potensi ekonomi lokal. Masa depan ekonomi Sumedang ada di tangan para pengusaha muda,” tegas Bupati.
Bupati juga menyoroti kuatnya sinergi antara Pemkab Sumedang dan HIPMI dalam berbagai program, termasuk Gerakan Wirang Usahawan yang menciptakan wirausaha baru, serta keterlibatan HIPMI di Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai narasumber dan pelatih tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri. Bahkan, BLK telah menyiapkan tenaga kerja migran ke Jepang dengan dukungan pinjaman KURDA Bank Sumedang berbunga rendah 3 persen.
Untuk periode 2026, Bupati mendorong HIPMI mengusung tagline program yang “membumi”, yakni kadelek (terlihat), karampa (teraba), dan karasa (terasa) oleh masyarakat.
Dalam konteks program nasional Makanan Bergizi Gratis (MBG), HIPMI ditantang memastikan pasokan pangan berasal dari potensi lokal Sumedang. Program MBG sendiri diperkirakan menggerakkan peredaran uang hingga Rp11 triliun per tahun di Sumedang, sehingga berpotensi besar menjadi lokomotif ekonomi daerah.
Berbagai program pendukung pun disiapkan, mulai dari KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) sebagai pemasok MBG, STARBA untuk penguatan pertanian desa, Teras Keco untuk pemanfaatan pekarangan sempit, peternakan ayam petelur rakyat, hingga pelatihan pembuatan roti di BLK agar masyarakat menjadi pemasok langsung MBG.
Menutup sambutannya, Bupati Doni menantang HIPMI Sumedang untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna menghimpun seluruh potensi lokal yang tersebar, agar kebutuhan Sumedang—khususnya untuk MBG—dapat dipenuhi dari daerah sendiri.
