SUMEDANG – elltaranews.com. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) memastikan kondisi Mahkota Binokasih Sanghyang Pake tetap utuh dan tidak mengalami perubahan setelah mengikuti rangkaian kirab budaya Milangkala Tatar Sunda di sejumlah daerah di Jawa Barat.

Pernyataan tersebut disampaikan usai proses evaluasi dan pengecekan ulang kondisi mahkota yang dilakukan di Kabupaten Sumedang, Kamis (21/5/2026), melibatkan lima orang TACB yang diketuai Nurul Laila S.S dari BRIN bersama Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Sumedang, M. Budi Akbar mengatakan, pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi Mahkota Binokasih tetap sesuai dengan kondisi awal sebelum kirab budaya dilaksanakan.
“Alhamdulillah hari ini kami mengundang Tim Ahli Cagar Budaya untuk mengevaluasi kondisi Mahkota Binokasih setelah pelaksanaan kirab budaya dalam bingkai Milangkala Tatar Sunda., adapun hasilnya tergantung pemeriksaan tim ahli,” ujar Budi Akbar.
Menurutnya, sebelum kirab dilaksanakan, Mahkota Binokasih juga telah lebih dulu dikaji oleh TACB dalam proses pengusulan peningkatan status cagar budaya ke tingkat provinsi hingga nasional.
Budi menegaskan, pelaksanaan kirab budaya merupakan bagian dari pemanfaatan cagar budaya agar tidak hanya disimpan sebagai benda sejarah, tetapi juga memberi dampak bagi masyarakat luas.
“Mahkota Binokasih bukan hanya sekadar disimpan di museum, tetapi juga harus dimanfaatkan dalam konteks edukasi, budaya, pariwisata, hingga meningkatkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan leluhur,” katanya.
Ia berharap kegiatan Milangkala Tatar Sunda yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat dapat menjadi agenda tahunan yang berdampak pada peningkatan kunjungan wisata, khususnya ke Museum Prabu Geusan Ulun dan destinasi budaya di Sumedang maupun Jawa Barat.
“Harapannya sektor pariwisata meningkat, ekonomi masyarakat bergerak, dan pendapatan daerah juga ikut meningkat,” tambahnya.
Sementara itu, anggota TACB, Edah Jubaedah SS menepis isu yang sempat beredar di media sosial terkait dugaan adanya bagian mahkota yang hilang selama kirab berlangsung.
“Tidak ada elemen yang hilang. Dari awal kami kaji sampai sekarang tidak ada perubahan,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi hoaks dan bersama-sama menjaga warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Sunda tersebut.
“Kita jawab dengan fakta yang ada. Ini harus terus disosialisasikan supaya masyarakat tidak gagal paham,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Radya Anom Keraton Sumedang Larang sekaligus Ketua Yayasan Nadzir Wakaf Pangeran Sumedang, R. Luki Djohari Soemawilaga. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah melakukan pengecekan ulang kondisi mahkota secara terbuka.
“Hasil cek and recheck menyatakan Mahkota Binokasih tetap tidak ada perubahan. Ini menjadi acuan bagi kami untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa mahkota ini tetap aman dan utuh, dan hasil resminya kita tunggu dari hasinya TACB”. katanya
(Bahaep)
