SUMEDANG – eltaranews.com. Langit Sumedang kembali bersiap menjadi panggung olahraga dirgantara internasional. West Java Paragliding Championship (WJPC) 2026 akan digelar di kawasan Batudua, Kabupaten Sumedang, pada 12–20 September 2026, dengan diikuti peserta dari 14 negara dan 91 pilot.
Berbagai persiapan terus dikebut panitia. Namun di balik persiapan tersebut, terselip kisah perjuangan dan kebersamaan para pihak yang terlibat untuk memastikan ajang internasional tersebut tetap berlangsung meski dukungan anggaran tahun ini terbatas.
Hal itu disampaikan panitia WJPC 2026 sekaligus legenda paralayang Sumedang dan pendiri Yayasan Sang Aero Activities, Aries, seusai rapat persiapan di Kantor Disparbudpora Sumedang, Jumat (11/9/2026).
Aries mengaku terharu melihat dukungan berbagai elemen masyarakat dan instansi di Sumedang yang tetap berjibaku menyukseskan WJPC tanpa banyak memikirkan keuntungan pribadi.
“Pada dasarnya baru kali ini saya menghadapi rekan-rekan yang satu jiwa, ingin menyelesaikan ini bareng-bareng. Ini sangat berarti bagi kami dari paralayang,” ujarnya.
Menurutnya, WJPC selama ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga bagian dari perjuangan memperkenalkan nama Sumedang ke masyarakat internasional.
“Kami dari paralayang berjuang mengatasnamakan Sumedang, agar Sumedang dikenal masyarakat di luar Indonesia. Itu sudah terwujud berkali-kali dan tahun ini, suka tidak suka, saya harus menjalankan lagi,” katanya.
Aries menegaskan, keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan event yang telah menjadi salah satu ikon olahraga dirgantara Sumedang tersebut.
Ia menyebut sejumlah instansi turut bersinergi, mulai dari Disparbudpora, Dinas Kesehatan melalui tim medis, BPBD, kepolisian, Kodim/TNI, pemadam kebakaran, DLHK hingga Satpol PP, kecamatan Cisitu, desa Linggajaya, kecamatan ujungjaya desa palabuan, kebon cau dan lainnya.
Dukungan juga datang dari organisasi komunikasi seperti RAPI dan ORARI yang ikut membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan.
“Semua bersinergi. Dari organisasi ada RAPI, ada ORARI. Semua bergerak, ayo kita kerjakan bareng-bareng. Itu yang membuat saya cukup terharu,” ungkapnya.
Aries mengakui pelaksanaan WJPC tahun ini menghadapi tantangan dari sisi pendanaan. Menurutnya, pemerintah memang tidak dapat disalahkan karena anggaran untuk kegiatan tersebut telah ditentukan dan telah berbuat banyak di Event West Java Paragliding Championship sebelum -sebelummya.
Sebelumnya, dukungan anggaran pernah datang dari pemerintah provinsi maupun kabupaten. Namun tahun ini, kondisi berbeda.
“Kami sudah menginformasikan bahwa ini akan berjalan dengan sponsor full. Hanya entah kenapa satu dan lainnya sponsornya tidak hadir,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat panitia bersama sejumlah pihak akhirnya melakukan patungan agar kompetisi tetap berjalan.
“Anggaran yang kami kumpulkan dari pribadi kami masing-masing. Sponsor ada, tetapi sedikit dan lebih ke ceremonial, tidak untuk kegiatan,” katanya.
Ia menjelaskan, kebutuhan terbesar antara lain transportasi, makan siang peserta, serta hadiah bagi para pemenang. Sementara biaya hotel peserta ditanggung masing-masing.
“Biaya besar itu transportasi, makan siang dan hadiah. Saya terharu karena kita semua, termasuk diri saya, harus berjibaku tanpa memikirkan berapa yang akan kita dapat,” tuturnya.
Pembukaan dan Penutupan Ditangani EO
Terkait lokasi pembukaan dan penutupan WJPC 2026, Aries menegaskan hal tersebut bukan menjadi kewenangannya.
Menurut dia, pembukaan dan penutupan merupakan ranah event organizer (EO) yang memiliki kontrak dan dukungan sponsor tersendiri.
Sementara panitia kompetisi fokus memastikan seluruh rangkaian pertandingan paralayang berjalan baik.
Aries juga menyebut rencana kegiatan yang sebelumnya akan digelar di kawasan Alun-alun Sumedang akhirnya dialihkan ke PPS
Aries berharap WJPC 2026 tidak hanya sukses secara penyelenggaraan, tetapi juga meninggalkan kesan positif bagi para peserta internasional.
“Harapannya peserta puas dengan kompetisi yang kita jalankan dan mereka makin hari makin mencintai Sumedang, sehingga hadir setiap tahun. Itu saja,” pungkasnya.
(Bahaep)
