SUMEDANG – eltaranews.com
Perjalanan panjang penuh keringat, jatuh-bangun, dan air mata akhirnya berbuah manis. Sekolah Sepak Bola (SSB) AROFA Kelompok Umur (KU) 2012 sebanyak 52 dari 175 siswa resmi diwisuda di Pendopo Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Sabtu (31/1/2026). Wisuda ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda kemenangan atas keraguan dan keterbatasan.
Angkatan 2012 bukanlah tim yang sejak awal dielu-elukan. Mereka memulai dari lapangan sederhana dengan rumput menguning, tendangan yang masih ragu, koordinasi yang belum padu, dan stamina yang jauh dari ideal. Namun satu hal yang tak pernah pudar: hasrat untuk bermain sepak bola.
Pelan tapi pasti, latihan rutin setiap Senin, Rabu, dan Jumat sore membentuk karakter mereka. Dari pemanasan berirama, latihan dasar dribbling, passing, hingga shooting, semua dijalani dengan disiplin. Hujan deras, kekalahan, bahkan rasa ingin menyerah kerap datang, namun selalu ditepis dengan satu keyakinan: kalah adalah guru terbaik.
Waktu membuktikan segalanya. Tendangan yang dulu lemah kini keras dan terarah. Ego individu perlahan luluh, berganti kesadaran bahwa kemenangan hanya lahir dari kerja sama tim.
Prestasi Bicara, Bukan Janji
Saat kompetisi tiba, SSB AROFA KU-2012 tampil berbeda. Lebih rapi, lebih tenang, dan lebih matang. Permainan kolektif, operan satu-dua, hingga gol-gol penentu menjadi ciri khas mereka.
Deretan prestasi pun tak terbantahkan:
Juara 1 Sumedang Super League 2022
Juara 1 Confluence Cup Sumedang 2023
Juara 1 Paduka Soccer Festival 2023
Juara 1 Piala Suratin Asmi 2024
Runner Up Piala Suratin U-13 Tahun 2025
Wakil Kabupaten Sumedang di Piala Suratin Jawa Barat
Mereka pulang bukan hanya membawa piala, tetapi juga nilai kehidupan: disiplin, ketekunan, dan persahabatan.
Pembinaan, Bukan Sekadar Prestasi

Kepala SSB AROFA, Edwin Mustofa, menegaskan bahwa sepak bola usia dini bukan soal cepat menang, melainkan proses panjang pembinaan karakter dan mental.
“Usia 9 sampai 15 tahun adalah usia pembinaan, bukan usia prestasi. Jalan menuju profesional sangat panjang. Data menunjukkan hanya sekitar 4 persen pemain SSB yang benar-benar menjadi pemain profesional,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kerja keras ekstra, gizi seimbang, istirahat cukup, serta mental baja untuk bertahan dalam rutinitas hingga usia dewasa.
Dalam kesempatan itu, Edwin juga mengenang almarhumah Vitriani Chandra Dewindur Arofadila, penggagas SSB AROFA pada 2017, yang namanya kini menjadi identitas perjuangan dan semangat pembinaan sepak bola di Sumedang.
Apresiasi dan Tantangan dari Pemerintah
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumedang, Agus Muslim, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi SSB AROFA.
Ia menilai SSB AROFA selaras dengan amanat Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, di mana klub menjadi ujung tombak pembinaan atlet. Agus bahkan menantang AROFA untuk bertransformasi menjadi klub yang lebih matang dan mendorong pembentukan tim sepak bola putri di masa depan.
“Sepak bola mengajarkan perjuangan, disiplin, dan kerja sama. Tapi yang paling utama, jangan pernah melupakan jasa orang tua. Hormati ayah dan ibu, karena mereka adalah fondasi segalanya,” pesannya.
Lebih dari Wisuda
Wisuda SSB AROFA KU-2012 menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat sederhana. Bahwa kerja keras, jika dijalani dengan konsisten, akan selalu menemukan jalannya menuju kemenangan.
(Bahaep)
