Sumedang-eltaranews.com. Masjid Agung Sumedang terus menunjukkan komitmennya sebagai rumah ibadah yang ramah dan inklusif bagi semua kalangan.
Sejak Desember 2024, masjid kebanggaan masyarakat Sumedang ini secara konsisten menyediakan juru bahasa isyarat setiap pelaksanaan Salat Jumat, khususnya untuk membantu jemaah tuli memahami isi khutbah.
Layanan inklusif ini mendapat respons positif dari berbagai pihak dan menjadi contoh nyata bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang bersama yang menjunjung tinggi nilai kesetaraan, kepedulian, dan kemanusiaan.
Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Sumedang atas komitmen dan keistiqomahan dalam mewujudkan masjid yang ramah difabel.
“Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada DKM Masjid Agung Sumedang yang telah konsisten menjadikan masjid ini ramah difabel dan inklusif,” ujar Bupati.
Ia menegaskan bahwa aksesibilitas di Masjid Agung Sumedang telah disiapkan dengan sangat memadai, mulai dari fasilitas fisik hingga layanan keagamaan.
Salah satu inovasi penting adalah penyediaan pemandu bahasa isyarat setiap Jumat, sehingga jemaah tuli dapat mengikuti dan memahami pesan-pesan keagamaan yang disampaikan khatib.
“Dengan adanya pemandu isyarat, teman-teman tuli bisa mendapatkan pengetahuan keagamaan yang berdampak pada peningkatan iman dan takwa,” tambahnya.
Bupati juga berharap Masjid Agung Sumedang terus menjadi pelopor masjid inklusif dan terdepan dalam memberikan pelayanan keagamaan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan pengetahuan tentang keagamaan,” tegasnya.
