Mahkota Binokasih Kembali dengan Aman dan utuh, Keraton Sumedang Larang Apresiasi KDM

Budaya Terkini

SUMEDANG – eltaranews.com. Mahkota Binokasih Sanghyang Pake akhirnya kembali ke Keraton Sumedang Larang usai menuntaskan rangkaian Kirab Mahkota Milangkala Tatar Sunda yang berlangsung sejak 2 hingga 19 Mei 2026 di sejumlah daerah di Jawa Barat.

Kepulangan mahkota peninggalan Kerajaan Sunda tersebut disambut penuh rasa syukur oleh keluarga Keraton Sumedang Larang, Pemerintah Kabupaten Sumedang hingga masyarakat yang memadati kawasan keraton.

Perwakilan Keraton Sumedang Larang,  mengatakan, Mahkota Binokasih kembali dalam keadaan aman dan utuh setelah mengikuti perjalanan budaya yang dinilai sarat makna sejarah dan filosofi kesundaan.

“Alhamdulillah puji syukur kepada Gusti Allah Yang Maha Kuasa, Mahkota Binokasih mulang sarakan kembali ke Keraton Sumedang Larang dengan selamat, aman dan utuh setelah mengikuti rangkaian kirab Mahkota Milangkala Tatar Sunda,” ujarnya.

Menurutnya, kirab tersebut bukan sekadar seremoni budaya, melainkan momentum memperkenalkan budaya Sunda yang adiluhung kepada masyarakat luas sekaligus mengangkat nilai sejarah dan filosofi Mahkota Binokasih sebagai sumber peradaban Sunda.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada  beserta jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang telah berkolaborasi dengan Keraton Sumedang Larang sehingga kegiatan kirab mampu menjangkau perhatian masyarakat Jawa Barat hingga nasional.

“Kegiatan ini membuat masyarakat lebih mengenal sejarah Mahkota Binokasih, Sumedang Larang dan nilai-nilai kesundaan yang luhur. Mudah-mudahan mampu menciptakan daya saing daerah berbasis budaya untuk kemajuan kebudayaan dan kepariwisataan daerah,” katanya.

Sementara itu, Bupati Sumedang  mengaku bersyukur Mahkota Binokasih kembali ke Sumedang setelah menjalani kirab budaya keliling Jawa Barat.

Menurutnya, kirab tersebut bukan hanya menjadi pengingat sejarah Kerajaan Sunda, tetapi juga sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar semakin mengenal jati diri dan warisan leluhurnya.

“Kirab ini menjadi pengingat sejarah sekaligus edukasi budaya bagi generasi muda. Nilai silih asih, silih asah dan silih asuh harus terus diterapkan dalam kehidupan masyarakat Sunda agar tercipta masyarakat yang sejahtera dan harmonis,” ujar Dony.

Di sisi lain, Gubernur Jawa Barat  atau yang akrab disapa KDM menilai Kirab Mahkota Binokasih telah membawa dampak positif bagi kebudayaan maupun perekonomian daerah.

Menurutnya, antusiasme jutaan masyarakat selama rangkaian kirab menjadi energi besar dalam membangun Jawa Barat berbasis budaya dan sejarah.

“Kita melihat bagaimana budaya mampu menggerakkan masyarakat. Ini energi besar untuk membangun Jawa Barat,” kata Dedi.

Ia juga menekankan pentingnya penataan kota, menjaga kebersihan lingkungan serta mempertahankan estetika kawasan budaya dan keraton agar identitas sejarah tetap terpelihara di tengah perkembangan zaman.

Kirab Mahkota Binokasih sendiri menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Jawa Barat tahun ini, sekaligus menegaskan kembali posisi Sumedang sebagai pusat sejarah penting dalam perjalanan peradaban Sunda.

(Bahaep)