Komunitas Imah Seni Parahyangan Berkunjung ke Keraton Sumedang Larang, Perkuat Komitmen Pelestarian Budaya Sunda

Budaya Terkini

SUMEDANG – eltaranews.com. Komunitas Imah Seni Parahyangan melakukan kunjungan silaturahmi ke Keraton Sumedang Larang, Rabu (26/8/2026). Rombongan diterima di Bale Gede Srimanganti oleh Mantri Luar Keraton Sumedang Larang Rd. Asep Sulaeman Fadil, Radya Anom Rd. Luky Djohari Soemawilaga bersama Permaisuri N.R. Inge Sagitania serta jajaran pengurus keraton.

Kedatangan rombongan disambut dengan nuansa khas budaya Sunda melalui pertunjukan seni tari. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus bertukar pandangan mengenai pelestarian seni, tradisi, dan kebudayaan Sunda.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Imah Seni Parahyangan menyampaikan bahwa komunitas tersebut merupakan wadah berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan dan lintas generasi yang memiliki kepedulian serta kecintaan terhadap kesenian.

Imah Seni Parahyangan yang telah berjalan sekitar dua tahun itu kini memiliki sekitar 100 anggota. Komunitas tersebut memiliki visi menjaga dan mengembangkan kesenian tradisional serta meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya, khususnya kesenian Sunda.

“Tidak kenal maka tidak sayang. Imah Seni Parahyangan adalah sebuah rumah atau tempat berkumpulnya orang-orang yang mempunyai kepedulian dan mencintai seni. Siapa pun bisa bergabung, yang penting memiliki kepedulian terhadap kesenian,” ungkap perwakilan komunitas.

Berbagai kegiatan seni secara rutin dilakukan komunitas tersebut, mulai dari latihan tari hingga kegiatan pertunjukan. Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan mendapat sambutan masyarakat dengan jumlah penonton mencapai sekitar 500 orang.

Sementara itu, Radya Anom Rd. Luky Djohari Soemawilaga dalam sambutannya menekankan bahwa pembicaraan mengenai kebudayaan tidak boleh hanya berhenti pada pelestarian seni dan tradisi. Menurutnya, seni dan tradisi hanyalah bagian dari kebudayaan yang memiliki nilai lebih luas, termasuk nilai sejarah, filosofi, ideologi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Ia mencontohkan nilai yang terkandung dalam Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, yang menurutnya memiliki makna penting tentang kasih sayang.

“Binokasih itu artinya bina kasih sayang. Nilai kasih sayang harus dipakai dan dipergunakan sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan kita,” ujarnya.

Menurut Rd. Luky, nilai kasih sayang merupakan dasar yang dapat melahirkan berbagai nilai luhur lainnya, seperti toleransi, musyawarah, kebijaksanaan, keadilan, serta kepedulian terhadap sesama.

“Sebagai manusia, kita tidak mungkin berlaku adil dan bijaksana kepada orang lain tanpa memiliki nilai dasar kasih sayang. Kita juga tidak mungkin memiliki jiwa toleransi dan menghormati perbedaan tanpa nilai dasar tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, dalam perspektif kebudayaan Sunda, nilai kasih sayang merupakan salah satu prinsip utama kehidupan yang menjadi embrio bagi terbentuknya kebudayaan dan peradaban.

Nilai tersebut, lanjutnya, dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ideologi, ekonomi, sosial, politik, hukum, pertahanan, hingga kebudayaan.

Dalam bidang ekonomi, misalnya, nilai kasih sayang dapat diwujudkan melalui semangat gotong royong dan ekonomi kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama serta kesejahteraan masyarakat.

Rd. Luky juga mengaitkan nilai-nilai kebudayaan Nusantara dengan Pancasila. Ia menyampaikan bahwa nilai gotong royong yang menjadi salah satu karakter penting masyarakat Indonesia memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai budaya yang telah hidup di Nusantara sejak lama.

Ia juga menyinggung konsep Sunda silih asih, silih asah, dan silih asuh sebagai nilai yang penting dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

“Resi melalui silih asih, Rama melalui silih asah, dan Ratu melalui silih asuh. Ini merupakan sistem yang saling melengkapi,” tuturnya.

Menurutnya, keberadaan keraton tidak hanya berkaitan dengan peninggalan sejarah, tetapi juga memiliki peran sebagai salah satu pusat kebudayaan yang dapat memberikan kesadaran kolektif kepada masyarakat mengenai identitas, nilai, dan jati diri bangsa.

“Keberadaan keraton adalah untuk memperkuat kesadaran bahwa kita adalah bangsa yang memiliki kebudayaan dan nilai-nilai luhur,” ujarnya.

Ia menilai, pemahaman terhadap kebudayaan perlu terus ditingkatkan, terutama di kalangan generasi muda. Kebudayaan, kata dia, harus dipahami bukan sekadar sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai kebutuhan bangsa dalam membangun masa depan.

Dalam kesempatan itu, Rd. Luky memberikan apresiasi kepada Komunitas Imah Seni Parahyangan yang dinilai konsisten dalam mengembangkan dan memperkenalkan kesenian kepada masyarakat.

“Kesenian itu bagian dari elemen kebudayaan. Bicara seni itu bicara rasa. Rasa dan karsa harus menjadi landasan dalam kehidupan kita,” katanya.

Ia berharap komunitas seni seperti Imah Seni Parahyangan dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap kebudayaan.

Menurutnya, kebangkitan kebudayaan tidak harus dilakukan dengan cara yang keras atau anarkis, tetapi melalui edukasi dan penyadaran kepada masyarakat bahwa budaya merupakan kebutuhan penting bagi bangsa.

“Harus ada kebangkitan kebudayaan, bahkan revolusi budaya. Tetapi revolusi budaya bukan dengan cara anarkis atau tendensius. Caranya adalah memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat bahwa budaya merupakan sebuah kebutuhan bangsa,” pungkasnya.

Kunjungan Imah Seni Parahyangan ke Keraton Sumedang Larang diharapkan menjadi awal dari terjalinnya kerja sama yang lebih erat dalam berbagai kegiatan seni dan kebudayaan, sekaligus memperkuat peran komunitas dalam menjaga warisan budaya Sunda agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.