SUMEDANG – eltaranews.com. Keraton Sumedang Larang menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus pembacaan Kitab Waruga Jagat di kawasan Srimanganti, Selasa (25/8/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan penceramah Ustaz Fuad Ginan Burhanudin dari Pondok Pesantren Darussalam-Madinaturrosul. Acara berlangsung dalam suasana religius dan menjadi momentum untuk mengenalkan kembali warisan keagamaan serta kebudayaan yang berkembang di lingkungan Keraton Sumedang Larang.
Radya Anom Rd. Luky Djohari Soemawilaga dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Menurutnya, nilai keagamaan dan kebudayaan perlu terus dirawat agar dapat menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat, terutama nilai kasih sayang, kebersamaan serta kepedulian terhadap sesama.
Sementara itu, Sri Radya I Lukman Soemadisoerya turut menyampaikan pentingnya menjaga dan memahami warisan budaya serta tradisi yang berkaitan dengan sejarah Sumedang.

Dalam ceramahnya, Ustaz Fuad Ginan Burhanudin menjelaskan bahwa Kitab Waruga Jagat merupakan salah satu kitab yang memiliki keterkaitan erat dengan tradisi keagamaan leluhur Sumedang, khususnya dalam membangkitkan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
“Kitab Waruga Jagat itu adalah kitab yang menjadi ageman oleh leluhur Sumedang untuk membangkitkan ungkapan kecintaan kita kepada Rasulullah,” jelasnya.
Ia menerangkan, keberadaan Kitab Waruga Jagat juga memiliki hubungan dengan Mahkota Binokasih. Jika Waruga Jagat menjadi bagian tekstual atau tulisan yang memuat ajaran dan shalawat, Mahkota Binokasih dipandang sebagai simbol legitimasi yang berkaitan dengan warisan tersebut.
“Antara Binokasih dan Waruga Jagat itu, kalau Waruga Jagat tekstualnya, secara tulisannya, sedangkan Mahkota Binokasih ini sebagai simbol legitimasinya,” katanya.
Menurut Ustaz Fuad, inti ajaran yang terkandung dalam Waruga Jagat adalah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui shalawat. Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu mengetahui dan memahami isi kitab tersebut secara lebih baik.
Ia juga menekankan nilai kasih sayang yang menjadi salah satu pesan penting dalam warisan leluhur Sumedang. Nilai tersebut sejalan dengan semangat silih asah, silih asih, silih asuh yang selama ini dikenal sebagai bagian dari nilai luhur masyarakat Sunda.
“Waruga Jagat ini isinya adalah tentang Maulid Nabi. Jadi isinya itu maulid dan shalawat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustaz Fuad menyebut Sumedang memiliki sejumlah kitab warisan yang dikenal dengan nama Waruga Jagat, Waruga Gêmet, dan Waruga Guru. Namun, ia menegaskan bahwa masing-masing memiliki isi dan karakter yang berbeda.
“Kalau Waruga Guru dan Waruga Gêmet itu arab pegon. Kalau Waruga Jagat, isinya adalah tentang shalawat,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan seperti peringatan Maulid Nabi dan pembacaan Waruga Jagat dapat terus dilaksanakan sebagai sarana untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus menjaga kesinambungan warisan keagamaan dan kebudayaan Sumedang.
Kegiatan di Srimanganti tersebut menjadi salah satu upaya Keraton Sumedang Larang untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai sejarah, keagamaan dan kebudayaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar warisan leluhur tidak sekadar dikenal sebagai simbol, tetapi juga dipahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.
(Bahaep)
