Garda Yudha Balapati Gelar Santiaji di Curug Cipongkor, Napak Tilas Lelaku Spiritual Leluhur

Budaya

Sumedang – eltaranews.com – Garda Yudha Balapati Keraton Sumedang Larang menggelar Santiaji di kawasan Curug Cipongkor, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, pada 4 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para Santana Wargi Keraton Sumedang Larang untuk melakukan refleksi dan lelaku spiritual sekaligus mengenang jejak para leluhur yang diyakini pernah menjadikan kawasan Curug Cipongkor sebagai tempat pertapaan dan penyucian diri.

Curug Cipongkor secara turun-temurun dikenal memiliki nilai sejarah dan spiritual. Kawasan tersebut konon menjadi salah satu gerbang menuju lokasi pertapaan Pangeran Santri, sekaligus terdapat pancuran karohmah. Di bagian atas kawasan tersebut juga terdapat makam patilasan Eyang Jagabaya yang dikenal masyarakat sebagai Makam Nangtung.

Mantri Luar Keraton Sumedang Larang, R. Asep Sulaeman Fadil Adiwinata, menjelaskan, Santiaji merupakan momentum untuk melakukan penyegaran diri melalui laku spiritual sekaligus merenungkan hubungan manusia dengan alam dan Sang Maha Pencipta.

“Santiaji merupakan momentum untuk merefresh diri dalam laku spiritual melokat, atau dalam bahasa lainnya merupakan renungan ilahiyah. Bagaimana kita bisa menyatukan antara kita dengan alam dan Sang Maha,” ujarnya.

Menurutnya, Santiaji Garda Yudha Balapati Keraton Sumedang Larang idealnya dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memuliakan tempat-tempat yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan spiritual para leluhur.

Ia menyebut Sumedang memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah dan peradaban Sunda serta Nusantara.

“Sumedang ini menjadi pusat atau sentrum peradaban terakhir dari peradaban bangsa Nusantara, bangsa Sunda, yang memikul nilai peradaban Galuh, Pajajaran dan tentunya Sumedang Larang yang sejarahnya sangat panjang,” katanya.

Garda Yudha Balapati, Wadah Santana Wargi

R. Asep menjelaskan, Garda Yudha Balapati merupakan bagian dari Santana Wargi Keraton Sumedang Larang yang menghimpun diri dalam sebuah komunitas terstruktur.

Keberadaannya kini mencakup para Santana Wargi yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat hingga wilayah lainnya di Nusantara.

“Maksud dan tujuannya adalah bagaimana lebih mengeratkan tali silaturahmi, bagaimana kita sama-sama sebagai keluarga besar dari trah Keraton Sumedang Larang berkumpul dan bersepakat untuk selalu terhubung dalam program-program khusus yang seiring dan sebangun dengan kebijakan keraton,” jelasnya.

Menurut R. Asep, Garda Yudha Balapati merupakan “ring” atau bagian dari Keraton Sumedang Larang yang berada di luar lingkungan keraton, namun tetap bertanggung jawab kepada pemangku kebijakan keraton.

Dalam struktur tersebut, Mantri Luar Keraton Sumedang Larang menjadi penanggung jawab yang berkaitan dengan hubungan keraton dengan dunia luar.

Sementara pembina dan pelindung berada pada unsur pimpinan keraton, termasuk Ramapatih/Mahapatih Keraton Sumedang Larang, Radya Anom serta Sri Radya Keraton Sumedang Larang.

Napak Tilas Leluhur

Santiaji yang dilaksanakan di Curug Cipongkor, kata R. Asep, bukan sekadar kegiatan berkumpul, melainkan bagian dari lelaku spiritual para Santana Wargi untuk mengenang dan menghayati perjalanan leluhur.

“Leluhur yang mengawali, kita yang tentunya menggenapi. Kita akan memikirkan dan mengolah apa yang terbaik yang harus kita lakukan ke depan,” katanya.

Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta dan melibatkan Karang Taruna serta pengelola kawasan Curug Cipongkor.

R. Asep menyebut Curug Cipongkor menyimpan banyak kisah mengenai lelaku spiritual para leluhur, mulai dari masa Raja Resi, masa Keprabuan hingga era Sumedang Larang.

Kawasan itu, lanjutnya, dipercaya pernah menjadi tempat untuk melakukan tahanut, semedi, tapa brata, upawasa hingga melokat atau penyucian diri.

Tradisi tersebut diyakini terus berlangsung dari generasi ke generasi.

“Siapa pun yang punya hajat atau keinginan untuk menyatukan diri dengan rasa dan leluhurnya, tentunya bisa melakukan lelaku spiritual di Curug Cipongkor,” ujarnya.

Ia juga menyebut sejumlah tokoh dalam perjalanan sejarah Sumedang yang dikaitkan dengan kawasan tersebut, mulai dari era Sunan Pagulingan, Wirajaya Jagabaya, Sunan Guling, Mertalaya, Tirta Kusumah, Sunan Tuakan hingga masa Prabu Geusan Ulun.

Dari Cipongkor untuk Menghidupkan Tradisi

Setelah menjalani lelaku spiritual, para peserta diharapkan mendapatkan penyegaran batin sekaligus pemahaman mengenai tugas dan pengabdian terhadap nilai-nilai yang diwariskan leluhur.

“Setelah melokat seluruh Santana Wargi yang terpilih untuk melaksanakan lelaku spiritual menjadi orang yang tercerahkan, orang yang terbarukan, orang yang mengetahui tupoksi tugas daripada pengabdian terhadap leluhur dan pelayanan terhadap apa yang digenapi oleh leluhur dan kita genapi hari ini,” ungkapnya.

Karena itu, R. Asep berharap tradisi ngalokat, ngaruhan dan Santiaji dapat menjadi agenda rutin Garda Yudha Balapati Keraton Sumedang Larang.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak harus selalu dipusatkan di Curug Cipongkor, tetapi dapat dilaksanakan di berbagai wilayah yang memiliki nilai sejarah dan karamat bagi masyarakat serta Keraton Sumedang Larang.

“Semoga setiap daerah, setiap wilayah atau setiap kabuyutan dan karamat bisa dijadikan sebagai objek pertemuan rasa antara generasi hari ini dan generasi masa lampau,” pungkasnya.
Rahayu agung dumadi, rahayu jaya sampurna, rahayu, rahayu, rahayu pun tabepun, pun sapun.

Susunan Pengurus Garda Yudha Balapati Keraton Sumedang Larang

Pelindung

– H.R.I. Lukman Soemadisoerya — Sri Radya Pangawulaan Sumedang Larang Khadimulloh
– Radya Anom Rd. Luky Djohari Soemawilaaga

Pembina

– Rd. Djamhuur Soemawilaga

Penanggung Jawab

– Rd. Asep Sulaeman Fadil Adiwinata

Pini Sepuh

1. Brigjen AD Rd. Tony
2. Kolonel AD Rd. Murad Zaelani
3. Rd. H. Uye
4. Rd. Yosep, S.H.
5. Rd. H. Endang Suyono
6. Rd. H. Wawan Suyanto
7. Rd. Agus Suryadipraja
8. Ceu Away
9. N.R. Uci (Ambu Ucu)

Pengurus

1. Senopati Patagama — Rd. M.S. Adowirya Adiwinata
2. Senopati Pratama — Rd. Chep Dadan Satja Darsana
3. Senopati Dwingga — Rd. Asep Acu Praja Kusumah Wijaya
4. Senopati Triyasa — Rd. Dadang Sulaeman
5. Catur Darsa — Rd. Asep Rusmana

Girang Serat

1. Rd. Deni Mangfaat
2. Rd. Endih/Ciwok

Girang Banda

1. N.R. Rika Mustikasari Sastrawijaya
2. Rd. Egi Arisandi, S.Hum., Gr.

Girang Umum dan Media

– Rd. Asep Firmansah

(Bahaep)