Sumedang – eltaranews com. Lahirnya Kujang Sakembaran atau Kujang Kembar menjadi simbol persatuan tatanan budaya Sunda sekaligus momentum bersejarah bagi keluarga besar Karaton Sumedang Larang. Kehadirannya dimaknai sebagai penanda kebangkitan kembali peradaban Sunda yang berakar pada sejarah Kerajaan Sunda Pajajaran dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
Dalam kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut, Kyai Ashrofi Muhammad menguraikan makna mendalam di balik uga atau ramalan Prabu Siliwangi. Ia menegaskan, penataan kembali Sumedang Larang memiliki arti penting dalam upaya membangkitkan dan menyatukan peradaban budaya Sunda.
“Tidak akan tegak sebuah peradaban Sunda, dan tidak akan berdiri sebuah kerajaan di Tatar Sunda apabila Sumedang Larang sebagai penerus terakhir Kerajaan Sunda Pajajaran dengan simbol Mahkota Binokasih belum ditata dengan benar,” ungkapnya.
Menurut Kyai Ashrofi, kebangkitan budaya Sunda dan Sumedang Larang ditandai dengan hadirnya Kujang Kembar yang ditata melalui peran para sesepuh dari berbagai daerah di Nusantara.
Ia menyebut bentuk tersebut sebagai Ku-Ujang Kembar Trah Siliwangi, yang dikaitkan dengan sosok Yang Mulia (YM) Radya Anom R. Luky Djohari Soemawilaga dan YM R. Lily Djamhur Soemawilaga. Keduanya merupakan saudara kembar yang dinobatkan sebagai Radya Anom dan Mahapatih Karaton Sumedang Larang pada 2017, Yang pada hari ini senin 12 Oktober 2026 merupakan tanggal kelahirannya yang ke 55.

“Keduanya adalah kembar dan memiliki peran sebagaimana simbol dalam perjalanan sejarah Sri Baduga Maharaja Jagaraksa. Sang adik menjadi Sri Baduga, sedangkan sang kakak menjadi Mahapatih. Itu semua telah menjadi bagian dari takdir Allah SWT,” tuturnya.
Kyai Ashrofi juga menekankan pentingnya kembali kepada nilai swa dan persa, yang dimaknainya sebagai kesadaran untuk kembali ke asal-usul dan indung atau ibu sebagai sumber kehidupan.
“Sumedang Larang adalah puser budaya Sunda. Semua raja-raja dan keturunan Sunda harus berkumpul kembali di sini. Dari sinilah keseimbangan dan ketenteraman akan terwujud,” katanya.
Ia berharap persatuan lahir dan batin dapat menjadi jalan menuju kedamaian, kesejahteraan, dan ketenteraman bagi masyarakat luas.
Paparkan Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi
Sementara itu, Rd. Asep Sulaiman Fadil memaparkan silsilah keturunan yang menurut penjelasannya menghubungkan YM Radya Anom R. Luky Djohari Soemawilaga dan YM Mahapatih R. Lily Djamhur Soemawilaga dengan Prabu Siliwangi.
Asep menjelaskan, penelusuran tersebut menggunakan garis keturunan laki-laki atau patrilineal. Ia menguraikan rangkaian silsilah mulai dari Prabu Langlangbumi, Prabu Cakranegara, Prabu Ajiguna Linggawisesa, Prabu Rangga Mulya Luhur Prabawa atau Aki Kolot, hingga Prabu Lingga Buana dan Prabu Niskala Wastu Kencana.
Dari rangkaian tersebut, Asep menghubungkannya dengan Prabu Jaya Dewata atau Pamanah Rasa, yang dikenal sebagai Prabu Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi.
Menurut pemaparannya, garis keturunan itu kemudian berlanjut melalui sejumlah tokoh hingga keluarga besar Sumedang Larang, termasuk Dalem Soerianagara I, Dalem Soerianagara II, Pangeran Soerianagara III atau Pangeran Kornel, Dalem Koesoemajoeda, hingga Pangeran Aria Soeria Koesoema Adinata yang dikenal sebagai Pangeran Sugih.
Dari garis keturunan tersebut, Asep menjelaskan, Rd. Soemawilaga merupakan ayah dari Rd. Abdul Hamid Soemawilaga, yang kemudian menurunkan Rd. Lukman Hamid Soemawilaga.
Dari pernikahan Rd. Lukman Hamid Soemawilaga dengan NR. Djoehaeni Djoewarsa lahir anak kembar, yakni Lily Djamhur Soemawilaga dan Luky Djohari Soemawilaga.
Asep menegaskan, berdasarkan penelusuran dan penjelasannya, keduanya juga memiliki hubungan dengan garis ahli waris Pangeran Soeria Atmadja atau Pangeran Mekah.
Ia merujuk pada Keputusan Raad Agama Sumedang Nomor 40 Tahun 1921. Menurut Asep, Pangeran Mekah merupakan tokoh penting dalam sejarah Sumedang Larang yang mewakafkan barang-barang peninggalan leluhur untuk kepentingan budaya sesuai amanat wakafnya.
Mahkota Binokasih Jadi Landasan Penguatan Budaya
Lebih lanjut, Asep menyampaikan bahwa upaya menggali dan mengkaji kembali nilai-nilai luhur budaya Sumedang Larang yang dilakukan Rd. Luky Djohari Soemawilaga bertumpu pada makna filosofis Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut turut menjadi landasan pemikiran bagi kebijakan daerah Sumedang Puser Budaya Sunda (SPBS), sekaligus mendorong program rekonstruksi dan revitalisasi Karaton Sumedang Larang sebagai pusat kebudayaan Sunda.
Ia berharap penguatan identitas sejarah dan budaya tersebut dapat menjadi modal untuk membangun daya saing daerah, mengembangkan potensi budaya, serta memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Lahirnya Kujang Sakembaran pun dimaknai bukan sekadar kehadiran simbol budaya, melainkan juga sebagai pengingat akan pentingnya persatuan, pelestarian warisan leluhur, dan upaya merawat jati diri Sunda di tengah perkembangan zaman.
Meski demikian, klaim mengenai silsilah dan hubungan historis yang disampaikan dalam kegiatan tersebut merupakan penjelasan narasumber yang masih perlu ditempatkan sesuai sumber sejarah dan dokumen pendukungnya.
*Redaksi
