Sumedang – eltaranews.com – Museum Prabu Geusan Ulun , Keraton Sumedang Larang ditutup sementara bagi pengunjung seiring dimulainya pengerjaan proyek revitalisasi empat bangunan bersejarah yang mendapat bantuan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Rabu (28/10/2026).

Revitalisasi tersebut menyasar empat bangunan, yakni Gedung Pusaka, Gedung Gendeng, Gedung Gamelan, dan Gedung Kereta. Pelaksanaan pekerjaan dipercayakan kepada empat perusahaan berbeda, masing-masing menangani satu bangunan.
Ketua Yayasan Nadzir Wakaf Pangeran Sumedang (YNWPS) sekaligus Radya Anom keraton sumedang larang Rd. Luky Djohari Soemawilaga, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan pelestarian warisan budaya khususnya museum dan Keraton Sumedang Larang.
Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti karena selama ini pihak keraton memiliki keterbatasan kemampuan finansial untuk melakukan perbaikan dan pemeliharaan bangunan bersejarah secara mandiri.
“Bagi kami, yang terpenting adalah adanya perhatian dari pemerintah. Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan ini. Mudah-mudahan ke depan ada bantuan lanjutan, bukan hanya untuk renovasi bangunan, tetapi juga untuk mendukung keberlangsungan pemeliharaan kebudayaan yang dilakukan oleh museum dan keraton,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa revitalisasi kali ini belum mencakup perbaikan menyeluruh , pekerjaan lebih difokuskan pada perbaikan empat gedung dan insyaallah seiring pada awal tahun 2027 dibuat perencanaan DED kawasan kebudayaan dan akan ditindaklanjuti kegiatan revitalisasi menyeluruh dimana museum keraton sumedang larang dan sekitarnya akan dijadikan kawasan pusat kebudayaan untuk menciptakan daya saing daerah berbasis sejarah budaya yang bertujuan meningkatkan kemajuan kebudayaan dan kepariwisataan daerah serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi di masyarakat
Ia berharap perhatian pemerintah terhadap museum dan Keraton Sumedang Larang tidak berhenti pada bantuan fisik, tetapi juga menyentuh aspek pemeliharaan koleksi budaya, pengelolaan museum, serta keberlangsungan aktivitas pelestarian tradisi dan sejarah.
Selain bantuan revitalisasi, pihak keraton berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kabupaten Sumedang dapat memberikan dukungan yang lebih berkelanjutan bagi pengelolaan keraton.
Menurut Rd. Luky, perhatian pemerintah terhadap museum dan Keraton Sumedang Larang tidak terlepas dari berbagai aktivitas dan program kebudayaan yang dijalankan untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan kebudayaan, baik di Kabupaten Sumedang maupun di Tatar Sunda secara lebih luas.
Sementara itu, Sri Radya keraton sumedang larang H.R.I. Lukman Soemadisoeria menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan pemerintah untuk perbaikan empat bangunan di lingkungan Museum Keraton Sumedang Larang.
Ia menilai perhatian tersebut menjadi langkah positif, mengingat keterbatasan kemampuan keraton dalam membiayai pemeliharaan bangunan dan peninggalan sejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat.
Namun, ia berharap dukungan pemerintah ke depan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, melainkan juga mencakup keberlanjutan pengelolaan dan pemeliharaan warisan budaya yang selama ini dijaga oleh pihak keraton.
Dengan dimulainya revitalisasi ini, diharapkan kondisi bangunan bersejarah di lingkungan Keraton Sumedang Larang semakin terpelihara sehingga nilai sejarah dan kebudayaan yang terkandung di dalamnya dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Penutupan sementara museum dilakukan selama proses pengerjaan revitalisasi berlangsung , ditutup mulai dari tanggal 26 Oktober sampai dengan akhir bulan desember 2026.
Informasi mengenai pembukaan kembali museum bagi pengunjung akan menyesuaikan dengan perkembangan dan penyelesaian pekerjaan di lapangan.
(Bahaep)
