Sumedang – eltaranews.com Di tengah derasnya arus digital, generasi muda khususnya Gen Z, sering kali hidup dalam kecepatan, informasi datang dan pergi dalam hitungan detik. Namun ada satu hal yang tidak boleh ikut tergerus oleh kecepatan itu, sejarah. Tanpa sejarah, sebuah bangsa kehilangan arah, tanpa mengenal akar, sebuah generasi mudah tercerabut dari jati dirinya.
Indonesia bukanlah bangsa yang lahir begitu saja. Ia tumbuh dari peradaban panjang, dari keberagaman suku, adat istiadat, bahasa, hingga nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Dari kerajaan-kerajaan besar yang pernah berdiri, seperti Kerajaan Sunda Pajajaran dan Kerajaan Galuh, hingga akhirnya bermuara pada berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, semuanya adalah rangkaian cerita yang membentuk siapa kita hari ini.
Salah satu mata rantai penting dalam perjalanan sejarah itu adalah Kerajaan Sumedang Larang. Kerajaan ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi menjadi simbol keberlanjutan peradaban Sunda. Dalam perjalanan sejarahnya, terjadi peristiwa penting berupa penyerahan Mahkota Binokasih, simbol kekuasaan dan kasih saying yang menandai estafet kepemimpinan dan peradaban dari Pajajaran kepada Sumedang Larang pada tanggal 22 April 1578 M. Peristiwa ini bukan hanya soal kekuasaan, melainkan tentang tanggung jawab menjaga nilai, budaya, dan identitas.
Di sinilah makna dari Kirab Panji dan Mahkota Binokasih menjadi sangat relevan. Tradisi ini bukan sekadar seremoni atau tontonan budaya, melainkan representasi hidup dari perjalanan sejarah itu sendiri. Kirab ini menggambarkan perjalanan simbolik mahkota dari Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang, sebuah narasi yang dihidupkan kembali agar tidak hilang ditelan zaman.
Lebih dari itu, kirab ini mengandung nilai filosofis yang dalam. Mahkota Binokasih, yang dimaknai sebagai “Bina Kasih”, mencerminkan bahwa kekuasaan sejatinya harus dilandasi oleh kasih sayang dan kebijaksanaan. Nilai ini justru sangat relevan bagi generasi muda hari ini, yang kelak akan menjadi pemimpin di berbagai bidang.
Bagi Gen Z, mengenal sejarah melalui kegiatan seperti ini adalah cara yang konkret dan membumi. Sejarah tidak lagi hanya menjadi teks dalam buku pelajaran, tetapi hadir dalam bentuk visual, gerak, dan pengalaman langsung. Tradisi seperti kuda renggong, tarian kerajaan, hingga arak-arakan pusaka menjadi jembatan emosional yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Namun, ada satu hal yang perlu disadari, pelestarian budaya tidak bisa berjalan sendiri. Peran pemerintah menjadi krusial. Regulasi seperti Permendagri tentang fasilitasi lembaga adat dan keraton menegaskan bahwa institusi budaya memiliki fungsi penting sebagai penjaga nilai-nilai sosial dan kultural. Dukungan pemerintah bukan hanya soal penyelenggaraan acara, tetapi juga memastikan bahwa generasi muda memiliki akses, ruang, dan kesempatan untuk mengenal serta mencintai budayanya sendiri.
Tanpa dukungan yang konsisten, kegiatan seperti Kirab Panji dan Mahkota Binokasih berisiko hanya menjadi agenda seremonial tahunan tanpa dampak jangka panjang. Padahal, jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi sarana edukasi sejarah yang kuat, bahkan menjadi identitas daerah yang membanggakan di tingkat nasional maupun global.
Lebih jauh lagi, momentum seperti Hari Jadi Sumedang seharusnya tidak berhenti pada perayaan. Ia adalah ruang refleksi. Sebuah pengingat bahwa sejarah tidak pernah berulang, tetapi selalu memberi pelajaran. Pertanyaannya bukan lagi “apa yang terjadi dulu”, melainkan “apa yang bisa kita lakukan hari ini agar masa depan lebih baik”.
Gen Z memiliki peran besar dalam menjawab pertanyaan itu. Dengan akses teknologi, kreativitas, dan daya jangkau yang luas, generasi ini bisa menjadi penggerak kebangkitan budaya, sebuah renaissance lokal yang berakar pada sejarah, tetapi tumbuh dalam semangat zaman.
Pada akhirnya, memahami sejarah bukanlah soal romantisme masa lalu. Ini soal identitas, arah, dan tanggung jawab. Kirab Panji dan Mahkota Binokasih adalah pengingat bahwa kita bukan generasi yang berdiri sendiri. Kita adalah kelanjutan dari perjalanan panjang dan apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi sejarah bagi generasi berikutnya.
(Mpirus)
