Sumedang – eltaranews.com. Karaton Sumedang Larang menjadi bukti sejarah keberadaan kerajaan di tanah leluhur Sumedang yang hingga kini tetap dijaga dan dilestarikan. Nilai historis tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam penetapan Hari Jadi Sumedang (HJS) yang kini memasuki usia ke-448.
Hal itu disampaikan Pupuhu Karaton Sumedang Larang, Radya Anom Rd. Luki Djohari Soemawilaga, yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Nadzir Wakaf Pangeran Sumedang (YNWPS), di sela kesibukannya, Kamis (16/4/2026), di Srimanganti.
Menurutnya, peringatan HJS bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan memiliki makna historis yang kuat dan harus dipahami oleh seluruh masyarakat.
“Penetapan tanggal 22 April sebagai Hari Jadi Sumedang merujuk pada peristiwa penting, yakni penyerahan Mahkota Kemaharajaan Sunda atau Binokasih Sanghyang Pake dari Kerajaan Pajajaran kepada Sumedang Larang pada 22 April 1578,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Mahkota Binokasi bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga mengandung nilai filosofi luhur, terutama nilai kasih sayang yang menjadi dasar kepemimpinan.
Dalam rangkaian perayaan HJS, sejumlah kegiatan sarat makna budaya turut digelar, di antaranya Kirab Panji dan prosesi Mahkota Kemaharajaan Sunda yang akan dilaksanakan tanggal 25 dan puncak acaranya tanggal 26 April 2026. Kegiatan tersebut menjadi pengingat akan kejayaan masa lalu sekaligus upaya melestarikan warisan budaya leluhur.
Lebih jauh, Luki menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Sumedang tidak boleh hanya bersifat seremonial. Ia berharap momentum tersebut dapat dijadikan inspirasi bagi masyarakat.
“Hari Jadi Sumedang harus dimaknai sebagai refleksi perjuangan para leluhur. Dari sana kita mengambil inspirasi untuk membangun karakter yang lebih baik,” katanya.
Ia pun mengajak para pemimpin dan masyarakat Sumedang untuk menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam Mahkota Binokasih sebagai pedoman dalam kehidupan.
“Nilai kasih sayang, kebijaksanaan, dan keadilan harus menjadi landasan dalam membangun Sumedang ke depan, demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan bermartabat,” pungkasnya.
Dengan demikian, peringatan HJS ke-448 diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat jati diri serta karakter masyarakat Sumedang yang berakar pada nilai-nilai luhur warisan leluhur.
(Bahaep)
