Tradisi Ampih Pare dan Seren Hasil Bumi, Keraton Sumedang Larang Lestarikan Warisan Leluhur Jelang Maulid Nabi

Budaya Terkini

SUMEDANG – eltaranews.com Tradisi Ampih Pare atau Seren Hasil Bumi kembali digelar sebagai bagian dari rangkaian menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Sumedang Larang, Selasa 04/08/2026.

Tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat adat atas hasil panen sekaligus mempererat hubungan antara masyarakat adat dengan pemangku adat.
Menteri luar Keraton Sumedang Larang, Rd. Asep Soelaeman Fadil menjelaskan bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk seba atau persembahan hasil bumi kepada pemangku adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Seren hasil bumi menjelang Maulid merupakan hajat akbar Keraton Sumedang Larang yang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu. Ini adalah wujud rasa syukur masyarakat kepada para leluhur sekaligus kepada Allah SWT atas hasil bumi yang diperoleh,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat dari berbagai rurukan adat di Sumedang, seperti Rancakalong, Ujungjaya, Cibugel, Surian, Cimanggung hingga wilayah perbatasan Majalengka, setiap tahun membawa hasil panennya sebagai bentuk seba, mirip dengan tradisi Seba Baduy di Banten.
Asep menuturkan, di lingkungan Keraton Sumedang Larang terdapat Lewit Jimat yang usianya telah mencapai lebih dari 300 tahun. Bangunan tersebut menjadi tempat penyimpanan cadangan pangan sekaligus simbol ketahanan pangan kerajaan sejak Balai Seri Manganti didirikan pada tahun 1706.
Ia menjelaskan, masyarakat Sunda, khususnya di Sumedang, memiliki kearifan lokal dalam memilih benih padi terbaik dari hasil panen. Padi unggulan tersebut kemudian dijadikan padi jimat atau padi indung untuk disimpan sebagai benih musim tanam berikutnya.
“Sebagian hasil panen juga disisihkan untuk makhluk lain seperti burung dan hewan lainnya. Ini menjadi bentuk penghormatan terhadap alam agar keseimbangan tetap terjaga,” katanya.
Sementara hasil bumi yang dibawa melalui tradisi seba disimpan sebagai cadangan pangan Keraton Sumedang Larang. Beras tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga besar keraton dan menjadi bagian dari sistem ketahanan pangan yang diwariskan leluhur.
Asep menambahkan, makna utama tradisi ini bukan hanya seremoni adat, tetapi juga momentum memperkuat nilai kebersamaan, menjaga alam, serta melestarikan budaya Sunda.
“Spirit yang ingin dijaga adalah filosofi Sabilulungan, yakni saling membantu, menolong yang membutuhkan, meringankan yang kesusahan, dan memperkuat gotong royong. Nilai inilah yang menjadi ruh masyarakat Sunda sejak dahulu hingga sekarang,” pungkasnya.

(Bahaep)