Wali Kota Bogor Kunjungi Keraton Sumedang Larang, Bahas Penguatan Budaya dan Museum Pajajaran

Terkini

SUMEDANG – eltaranews.com. Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim bersama rombongan melakukan kunjungan ke Keraton Sumedang Larang, Rabu (9/9/2026). Kedatangan rombongan disambut oleh Pupuhu Panata Keraton Sumedang Larang di Bale Agung Srimanganti.

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara Pemerintah Kota Bogor dan Kabupaten Sumedang, khususnya dalam bidang kebudayaan, sejarah, serta pelestarian peninggalan Kerajaan Sunda.

Dalam sambutannya, Sri Radya R.H.I. Lukman Soemadisoerya menyampaikan apresiasi atas kunjungan Wali Kota Bogor beserta rombongan. Ia menilai hubungan antara Bogor dan Sumedang memiliki akar sejarah dan kebudayaan yang kuat sehingga perlu terus dirawat dan dikembangkan.

Menurutnya, keberadaan keraton tidak hanya berkaitan dengan bangunan dan benda-benda pusaka, tetapi juga menyimpan nilai sejarah serta kebudayaan yang penting untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dengan institusi kebudayaan, termasuk keraton, dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya.

“Yang penting adalah bagaimana kita bisa berkolaborasi antara pemerintah dan kerajaan dalam menjaga serta mengembangkan kebudayaan,” ujarnya.

Sri Radya juga berharap perhatian pemerintah terhadap kebudayaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan dalam upaya nyata untuk menjaga berbagai peninggalan sejarah, termasuk bangunan, pusaka, gamelan dan benda-benda budaya lainnya yang berada di lingkungan keraton.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyampaikan terima kasih atas sambutan yang diberikan pihak Keraton Sumedang Larang.

Atas nama Pemerintah dan masyarakat Kota Bogor, Dedie menyampaikan apresiasi atas hubungan baik yang telah terjalin antara Bogor dan Sumedang.

“Kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan. Mudah-mudahan hubungan antara Bogor dan Sumedang terus terjalin dan semakin kuat,” kata Dedie.

Dedie mengatakan, kunjungannya ke Keraton Sumedang Larang juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kebudayaan antara kedua daerah yang sama-sama memiliki akar sejarah Sunda.

Ia mengungkapkan, Pemerintah Kota Bogor saat ini tengah melanjutkan pembangunan Museum Pajajaran. Museum tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu pusat informasi dan edukasi mengenai sejarah Pajajaran serta kebudayaan Sunda.

Dedie menjelaskan, pembangunan Museum Pajajaran mendapat dukungan dan arahan dari Kementerian Kebudayaan. Pemerintah Kota Bogor juga tengah berupaya memperkaya koleksi museum tersebut melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

Salah satu gagasan yang didorong adalah kerja sama antara pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan, termasuk dalam hal koleksi, artefak maupun benda-benda seni dan budaya.

“Ke depan kita ingin ada kerja sama, termasuk kemungkinan pertukaran atau peminjaman koleksi dan artefak antara Bogor dan Sumedang,” ujarnya.

Menurut Dedie, kerja sama tersebut penting agar masyarakat tidak hanya mengenal sejarah melalui buku, tetapi juga dapat melihat secara langsung berbagai peninggalan sejarah dan kebudayaan.

Ia menilai hubungan Bogor dan Sumedang secara historis sudah berlangsung lama dan memiliki akar yang kuat dalam sejarah Sunda. Karena itu, hubungan tersebut dinilai perlu diperkuat melalui kerja sama konkret di bidang kebudayaan.

“Kita ingin hubungan Bogor dan Sumedang yang sudah mengakar sejak lama ini semakin diperkuat, terutama dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan Sunda,” tuturnya.

Dedie juga meminta jajaran Pemerintah Kota Bogor, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, untuk terus membuka peluang kerja sama dengan Keraton Sumedang Larang serta lembaga kebudayaan lainnya.

Kunjungan tersebut diharapkan menjadi awal dari berbagai bentuk kolaborasi, mulai dari pengembangan museum, pertukaran informasi sejarah, hingga kerja sama dalam pelestarian artefak dan seni budaya.

Dengan kolaborasi tersebut, sejarah dan kebudayaan Sunda diharapkan tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat terus hidup, dikenal dan dipahami oleh generasi muda.
(Bahaep)