SUMEDANG – eltaranews.com. Demonstrasi massa yang mengatasnamakan diri sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran (UNPAD) di depan Sekretariat DPRD Kabupaten Sumedang, Kamis (3/9/2026), berlangsung panas.

Massa datang membawa tuntutan keras agar Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldilla, mundur dari jabatannya. Mereka juga mendesak DPRD Kabupaten Sumedang mengambil sikap terhadap berbagai persoalan yang belakangan menjadi sorotan publik.
Aksi yang awalnya diwarnai orasi dan penyampaian aspirasi tersebut kemudian memanas setelah massa menilai tidak ada perwakilan anggota DPRD yang turun menemui mereka.
Teriakan massa pun semakin keras.
Massa mengaku kedatangan mereka bukan sekadar untuk berunjuk rasa, tetapi ingin mendapatkan penjelasan langsung mengenai persoalan yang menjadi perhatian publik.
“Kita di sini hanya ingin berkomunikasi. Kita hanya ingin mengetahui bagaimana persoalan di publik,” ujar salah seorang demonstran.
Soroti Isu Perempuan
Dalam orasinya, demonstran juga menyoroti persoalan kekerasan terhadap perempuan. Pemerintah diminta tidak menutup mata terhadap persoalan yang berkaitan dengan hak dan perlindungan perempuan.
Salah seorang orator menyampaikan bahwa dirinya tidak berbicara atas nama kelompok tertentu, melainkan membawa suara perempuan.
“Saya tidak berbicara mewakili siapapun, saya berbicara hanya mewakili perempuan saja di sini,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah yang mendapatkan amanah dari masyarakat seharusnya mampu mendengar, merespons dan memberikan perlindungan terhadap masyarakat.
“Kalian sebagai pelayan publik harusnya merenung, harusnya berpikir, harusnya bermanfaat,” tegasnya.
Pemerintah Dituding Justru Berhadapan dengan Rakyat
Tak hanya menyoroti persoalan perempuan, massa juga melontarkan kritik keras terhadap respons pemerintah terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Mereka mempertanyakan sikap pemerintah yang dinilai justru berhadapan dengan masyarakat ketika aspirasi disampaikan.
“Namun pada faktanya, di lapangan yang terjadi, kalian malah mencari senjata yang menyerang kami. Pernahkah kalian berpikir hal tersebut tidak sesuai dengan instansi dan deskripsi kerja kalian?” kata orator.
Massa mengingatkan bahwa pejabat publik dipilih dan mendapatkan amanah untuk bekerja bersama masyarakat.
“Padahal kalian di awal dipilih, diamanahi untuk terus bersama kami,” lanjutnya.
Pagar DPRD Dijebol, Ban Bekas Dibakar
Ketegangan akhirnya meningkat.
Karena tidak adanya perwakilan anggota dewan yang menemui massa di lokasi aksi, demonstran kemudian melakukan aksi mendorong dan menjebol pagar Sekretariat DPRD Kabupaten Sumedang hingga roboh.
Aksi tersebut juga diwarnai pembakaran ban bekas.
Situasi itu membuat suasana di sekitar gedung DPRD Sumedang semakin tegang. Sejumlah anggota dewan dan petugas yang berada di lokasi terlihat menyaksikan kejadian tersebut.
Meski pagar telah roboh dan akses ke area dalam terbuka, massa tetap melanjutkan orasi dari luar dan tidak terlihat melakukan upaya memasuki gedung DPRD.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah penjagaan aparat keamanan yang berada di sekitar lokasi.
Desakan Mundur Menggema
Di tengah aksi, massa terus menyuarakan tuntutan agar Wakil Bupati Sumedang Fajar Aldilla mundur dari jabatannya.
Mereka juga meminta DPRD Sumedang tidak mengabaikan aspirasi yang disampaikan serta segera memberikan respons terhadap persoalan yang menjadi sorotan masyarakat.
Yel-yel perjuangan pun terus menggema.
“Hidup rakyat Indonesia! Hidup perempuan!” seru massa.
Aksi tersebut menjadi perhatian publik karena berlangsung di tengah meningkatnya sorotan terhadap persoalan yang dikaitkan dengan Wakil Bupati Sumedang.
Hingga berita ini ditulis, tuntutan utama massa adalah mendesak Fajar Aldilla mundur sebagai Wakil Bupati Sumedang dan meminta DPRD Kabupaten Sumedang menindaklanjuti aspirasi mereka.
Sementara itu, terkait berbagai tudingan dan tuntutan yang disampaikan massa dalam aksi tersebut, pihak-pihak yang disebut masih memiliki ruang untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan sesuai fakta serta mekanisme yang berlaku.
(Redaksi)
