Sumedang – eltaranews.com – Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah Cilongok, Kabupaten Tangerang, Banten,pimpinan pondok pesantren KH.Rd.Totoh Tohawi Romli bersama keluarga besar dan jamaah lebih dari 400 orang melakukan kunjungan silaturahmi dan wisata religi ke Keraton Sumedang Larang, Rabu (23/9/2026).

Kunjungan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Rombongan pesantren disambut keluarga besar Keraton Sumedang Larang dengan berbagai kesenian khas kerajaan yang digelar meriah.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara pesantren dengan Keraton Sumedang Larang, sekaligus menggali kembali sejarah, budaya, serta nilai-nilai keislaman yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah Sumedang.
Sri Radya R.H.I. Lukman Soemadisoeria dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas kesempatan berkumpul dan berdiskusi mengenai sejarah serta kebudayaan.

Ia menekankan pentingnya menjaga peninggalan sejarah dan budaya agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.
“Kita perlu terus menjaga dan melestarikan sejarah serta budaya yang ada. Hal ini penting agar generasi berikutnya tetap mengetahui asal-usul dan peninggalan para leluhur,” ujarnya.
Menurutnya, perhatian terhadap bangunan-bangunan bersejarah juga perlu terus ditingkatkan. Upaya renovasi, kata dia, hendaknya tetap mempertahankan bentuk dan nilai sejarah bangunan tersebut.
Ia juga menyampaikan rencana pengembangan kawasan keraton yang nantinya akan dilengkapi sejumlah bangunan dengan fungsi berbeda, antara lain gedung penyimpanan pusaka, gedung gamelan dan bangunan pendukung kegiatan kebudayaan.
“Yang terpenting adalah menjaga bentuk dan nilai sejarahnya,” katanya.
Sementara itu, Radya Anom R. Luky Djohari Soemawilaga memaparkan sejarah panjang Sumedang Larang, mulai dari Tembong Agung yang disebut sebagai pusat ilmu dan tempat menimba ilmu pada masa lalu.
Menurutnya, Tembong Agung berkembang hingga kemudian berdiri Kerajaan Sumedang Larang yang didirikan Prabu Guru Haji Putih melalui putranya, Batara Tuntang Buwana atau Prabu Tajimalela.
Luky juga menjelaskan makna nama Sumedang Larang yang dikaitkan dengan istilah Insun mendal dan Insun madangan, yang dimaknai sebagai kelahiran untuk memberikan penerangan atau pencerahan melalui ilmu kasundaan kasumedangan nya , ilmu yang mempelajari tentang ajaran kehidupan sejati Sementara “Larang” dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki nilai tinggi dan tidak ada bandingannya.
Dalam pemaparannya, Luky turut menyinggung keberadaan Pedang Kimastak milik Prabu Tajimalela dan kini tersimpan di Gedung Pusaka Keraton Sumedang Larang, yg bentuk pusaka berkaitan dengan masa islam
Ia kemudian menguraikan perjalanan sejarah para penerus Sumedang Larang hingga Ratu Pucuk Umun atau Ratu Dewi Inten Dewata yang menikah dengan Pangeran Santri atau Pangeran Sholeh Abdurrahman.
Dari pernikahan tersebut lahir Pangeran Angka Wijaya yang kemudian dikenal sebagai Prabu Geusan Ulun.
Menurut Luki, salah satu momentum penting dalam sejarah Sumedang terjadi ketika Mahkota Binokasih Sanghyang Pake diserahkan dari Kerajaan Sunda Pajajaran kepada Sumedang Larang pada 22 April 1578.
“Mahkota ini sebsgai simbol keagungan adat istiadat budaya sunda , bahwa nilai kasih sayang merupakan sumber daya kehidupan yang melahirkan nilai silih asih silih asah dan silih asuh , alhamdulillah eksistensi mahkota masih terjaga dan lestari sampai hari ini. Bisa kita lihat bersama di Gedung Pusaka Museum Prabu Geusan Ulun,” ujarnya.
Menariknya, Luki menyebut kunjungan Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah ke Keraton Sumedang Larang memiliki hubungan sejarah yang kuat.
Ia menjelaskan bahwa pendiri Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah disebut memiliki garis keturunan dari Pangeran Wangsakara atau Pangeran Tengger , yang juga dikenal sebagai Pangeran Wiraraja II, pangeran wiraraja II adalah cucu dari Prabu Geusan Ulun yang membuka alas cikal bakal tanggerang hari ini .
“Pertemuan malam ini antara Keraton Sumedang Larang dengan Pondok Pesantren Istiqlaliyah merupakan sebuah fenomena yang luar biasa bagi kami. Ini bukan sebuah kebetulan, tetapi memang sudah ditakdirkan,” ungkapnya.
Luki mengatakan, pertemuan tersebut diharapkan dapat kembali mempererat tali kekeluargaan sekaligus mendorong sinergi antara syiar Islam dan pelestarian budaya.
“Syiar Islam dengan pendekatan budaya ini harus disatukan. Agama dan budaya harus selaras,” katanya.
Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan pesan yang terdapat pada Monumen Lingga di tengah Alun-alun Sumedang, yang menurutnya mengandung nilai tentang pentingnya kepemimpinan yang berhati suci dan bijaksana.
Dalam pandangannya, hati yang suci merupakan simbol nilai agama, sedangkan kebijaksanaan merupakan bagian dari nilai budaya luhur yang diwariskan para leluhur.
Sementara itu, perwakilan Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah Cilongok, Tangerang, Banten, KH. Ahmad Humaini, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan bersilaturahmi dengan keluarga besar Keraton Sumedang Larang.
Ia menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya mempererat tali silaturahmi dan kekeluargaan sekaligus mengenal lebih dekat adat serta budaya Sunda yang diwariskan para leluhur.
KH. Ahmad Humaini berharap hubungan antara keluarga besar pesantren dan Keraton Sumedang Larang dapat terus terjalin serta membawa manfaat bagi penguatan nilai agama dan budaya.
“Kami datang untuk silaturahmi, menguatkan kekeluargaan dan mengenal warisan adat Sunda yang diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.
Kunjungan tersebut ditutup dengan suasana penuh keakraban antara rombongan Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah dan keluarga besar Keraton Sumedang Larang, dengan pesan bersama untuk tergus merawat sejarah, budaya, silaturahmi dan nilai-nilai keagamaan sebagai warisan bagi generasi mendatang. Kunjungan ini ditutup dengan zikir bersama dan tausyiah .
(Bahaep)
